TB Kontrol pabrik kornet sapi
Industri pengolahan makanan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Salah satu produk olahan yang banyak diproduksi adalah kornet, yaitu produk berbahan dasar daging sapi yang melalui beberapa tahapan proses seperti pencacahan, pencampuran bumbu, pengemasan, pemasakan, dan sterilisasi. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan aman dikonsumsi, diperlukan sistem kontrol yang mampu mengawasi dan mengendalikan setiap tahapan produksi secara efektif.
Sistem kontrol pada pabrik kornet digunakan untuk mengatur berbagai parameter proses, seperti suhu pemasakan, waktu sterilisasi, tekanan pada proses pengemasan, serta kondisi kebersihan peralatan produksi. Dengan adanya sistem kontrol otomatis, proses produksi dapat berjalan lebih efisien, mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan, serta menjaga kualitas produk tetap konsisten.
Pada tugas besar ini akan dirancang sistem kontrol pabrik kornet yang meliputi identifikasi proses produksi, pemilihan sensor dan aktuator yang sesuai, perancangan rangkaian kontrol, serta simulasi sistem secara keseluruhan. Melalui perancangan ini diharapkan proses produksi kornet dapat berlangsung dengan lebih optimal, produktif, dan sesuai dengan standar industri pangan yang berlaku.
- Mempelajari simulasi rangkaian tugas besar Kontrol Pabrik Kornet.
- Memahami prinsip kerja rangkaian Kontrol Pabrik Kornet.
- Mengetahui penerapan sistem kontrol pabrik kornet dalam kehidupan sehari-hari dan dunia industri.
- Mempelajari pengaplikasian rangkaian multiplexer (MUX), demultiplexer (DEMUX), counter, encoder, dan decoder pada sistem kontrol.
- Memahami prinsip kerja aplikasi Kontrol Pabrik Kornet yang menggunakan infrared sensor, load cell sensor, PIR sensor, touch sensor, magnetic reed switch sensor, dan sensor LM35.
- Mensimulasikan rangkaian aplikasi Kontrol Pabrik Kornet menggunakan infrared sensor, load cell sensor, PIR sensor, touch sensor, magnetic reed switch sensor, dan sensor LM35 pada software Proteus.
1. Transistor 2N222
Spesifikasi:
Tipe LED: 5 mm Round Standard Directivity.
Tahan terhadap cuaca dan sinar UV.
Arus maju (Forward Current): 30 mA.
Tegangan maju (Forward Voltage): 1,8 V – 2,4 V.
Tegangan balik maksimum (Reverse Voltage): 5 V.
Suhu operasi: -30°C hingga +85°C.
Suhu penyimpanan: -40°C hingga +100°C.
Intensitas cahaya: 20 mcd.
Konfigurasi Pin:
Pin 1: Anoda (terminal positif).
Pin 2: Katoda (terminal negatif).
Spesifikasi:
Rentang spektrum kerja berada pada kisaran 760 nm hingga 1100 nm.
Mampu mendeteksi objek pada sudut antara 0° hingga 60°.
Dapat beroperasi dengan catu daya sebesar 3,3 V sampai 5,3 V.
Memiliki rentang suhu kerja yang cukup luas, yaitu dari -25°C hingga 85°C.
Dimensi fisik komponen sekitar 27,3 mm × 15,4 mm sehingga mudah diintegrasikan ke dalam rangkaian elektronika.
Spesifikasi:
Nilai resistansi: 220 Ω.
Daya maksimum: 0,25 W (¼ W).
Toleransi: ±5%.
Jenis kemasan: Bulk.
Material: Carbon Film.
Koefisien temperatur: 350 ppm/°C.
Bebas timbal (Lead Free).
Memenuhi standar RoHS Compliance.
Nomor PIN | Nama Pin | Deskripsi |
1 | Coil End 1 | Digunakan untuk memicu (On / Off) Relay, Biasanya satu ujung terhubung ke 5V dan ujung lainnya ke ground |
2 | Coil End 2 | Digunakan untuk memicu (On / Off) Relay, Biasanya satu ujung terhubung ke 5V dan ujung lainnya ke ground |
3 | Common (COM) | Common terhubung ke salah satu Ujung Beban yang akan dikontrol |
4 | Normally Close (NC) | Ujung lain dari beban terhubung ke NO atau NC. Jika terhubung ke NC beban tetap terhubung sebelum pemicu |
5 | Normally Open (NO) | Ujung lain dari beban terhubung ke NO atau NC. Jika terhubung ke NO, beban tetap terputus sebelum pemicu |
Tegangan kerja: DC 3,3 V – 5 V.
Sensitivitas dapat diatur sesuai kebutuhan.
Dimensi modul: 32 mm × 17 mm.
Dilengkapi indikator keluaran sinyal.
Memiliki satu kanal output sinyal.
Tersedia lubang baut untuk memudahkan pemasangan.
Menghasilkan sinyal logika rendah saat suara terdeteksi.
Output berupa sinyal digital dengan logika HIGH dan LOW.
Spesifikasi :
- Tegangan kerja 3-5 V DC
- Konsumsi arus pada 3,3V = 23 mA dan pada 5V = 43mA
- Ukuran board 3.2 x 1,4cm
- Lubang sekrup 3mm
Grafik Infrared Sensor
Ketika barang melewati sensor infrared, sensor tersebut akan mengaktifkan treadmill sehingga barang dapat bergerak menuju area penghitung. Setelah barang memasuki area tersebut, sensor PIR akan mendeteksi keberadaan barang. Saat kedua sensor bekerja, rangkaian counter akan melakukan proses pencacahan (counter up) dan hasilnya ditampilkan pada seven segment. Apabila hitungan telah mencapai angka 9, sensor touch digunakan untuk mereset tampilan seven segment kembali ke angka 0 sehingga proses perhitungan dapat dimulai dari awal.
Saat sensor PIR aktif, tegangan keluaran sensor sekitar 4,99 V akan mengalir melalui resistor R2 sebesar 10 kΩ. Dengan konfigurasi pembagi tegangan (voltage divider), diperoleh tegangan VBE sekitar 0,79 V yang cukup untuk mengaktifkan transistor. Ketika transistor aktif, arus dari power supply mengalir dari kolektor ke emitor menuju ground. Akibatnya relay bekerja dan kontak relay berpindah posisi sehingga treadmill dapat beroperasi untuk membawa barang masuk ke dalam pabrik.
Selanjutnya, ketika sensor infrared dan sensor PIR aktif, tegangan keluaran sensor akan mengalir melalui resistor R3 dan mengaktifkan transistor Q2. Arus dari power supply kemudian mengalir dari kolektor ke emitor menuju ground sehingga relay aktif. Sinyal selanjutnya diteruskan ke rangkaian asynchronous counter. Pada rangkaian ini, sinyal clock hanya diberikan pada flip-flop pertama, sedangkan flip-flop berikutnya menerima clock dari keluaran flip-flop sebelumnya. Keluaran counter kemudian diteruskan ke rangkaian decoder yang berfungsi mengubah data biner menjadi tampilan desimal pada seven segment.
Sensor touch digunakan untuk mereset tampilan seven segment. Ketika sensor mendeteksi sentuhan dari operator, tegangan keluaran sensor mengalir melalui resistor R5 sebesar 10 kΩ dan menghasilkan tegangan yang cukup untuk mengaktifkan transistor. Setelah transistor aktif, relay bekerja dan sinyal diteruskan ke rangkaian encoder dan decoder sehingga tampilan pada seven segment kembali ke kondisi awal atau angka yang diinginkan untuk proses reset.
- Prosedur
- Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan di library proteus, seperti sensor vibration, sensor pir, flame sensor, gerbang AND, buzzer, logic state, decoder, seven segment, resistor, transistor, opamp, dan lain-lain.
- Susunlah alat dan bahan tersebut seperti gambar di bawah ini
- Resistor yang digunakan ada diberi hambatan 10k dan 220.
- Baterai yang digunakan diberi tegangan yaitu 12V.
- Power yang digunakan diberi tegangan yaitu 5V dan 7V.
- Buzzer yang digunakan diberi tegangan 12V
- Relay yang digunakan diberi tegangan 5V.
- Setelah semua komponen terangkai, maka cobalah untuk menjalankannya.
- Jalankan sensor Flame , Pir, Vibration dengan menekan logicstate yaitu mengubah dari angka nol menjadi satu.
- Jika rangkaian benar, maka sensor flame, sensor mq-2 dan sensor Pir akan bekerja sehingga led menyala, buzzer berbunyi dan motor pun bergerak.
- Jika logicstatenya tidak dijalankan atau berlogika 0 maka motor tidak akan bergerak, led tidak menyala, dan buzzer tidak berbunyi.
- Jika sensor vibration diaktifkan, maka pada seven segment akan muncul angka 1.
- Jika flame sensor diaktifkan, maka seven segment akan menghasilkan angka 2.
- Jika sensor vibration dan flame sensor diaktifan, maka akan memberikan angka 3 pada seven segmentnya.
Rangkaian Percobaan
Prinsip Kerja
⇉Apabila vibrasion sensor, flame sensor tidak mendeteksi getaran dan percikan api yaitu kedua sensor berlogika 0, maka output pada sensor sebesar 0-0.5 V akan diteruskan ke pin A dan pin B 74247 sehingga seven segmen akan menampilkan angka 0 sebagai tanda bahwa kedua sensor tidak ada menedeteksi apapun.⇉Apabila sensor vibrasion mendeteksi adanya getaran yaitu sensor berlogika 1 maka output sensor sebesar 5 V diteruskan ke pin A 74247 sehinnga seven segmen akan menampilkan angka 1 yang menandakan sensor vibrasi aktif. Kemudian output sensor sebesar 5V juga diteruskan ke gerbang AND maka input pada gerbang AND yaitu 1:1 sehingga output pada gerbang AND yaitu 1 lalu diteruskan ke resistor kemudian tegangan sebesar 0.87 V diteruskan ke transistor sehingga transistor aktif. Karena Q1 on maka ada arus dari batterai menuju relay sehingga relay aktif sehingga switch relay berpindah ke kiri dan relay on. dari relay arus mengalir ke kaki kolektor Q1 menuju ke emitor dan ke ground. Karena relay on dan switchnya berpindah ke kiri, arus mengalir ke battray dan dari batrai masuk ke motor sehingga led akan aktif (menyala).⇉Apabila flame sensor mendeteksi adanya percikan api yaitu sensor berlogika 1 maka output sensor sebesar 5V diteruskan ke pin B 74247 sehinnga seven segment akan menampilkan angka 2 yang menandakan sensor flame aktif. Kemudian output sensor sebesar 5V juga diteruskan ke gerbang AND maka input pada gerbang AND yaitu 1:1 sehingga output pada gerbang AND yaitu 1 lalu diteruskan ke resistor kemudian tegangan sebesar 0.87 V diteruskan ke transistor sehingga transistor aktif. Karena Q2 on maka ada arus dari batterai menuju relay sehingga relay aktif sehingga switch relay berpindah ke kiri, dari relay arus mengalir ke kaki kolektor Q2 menuju ke emitor dan ke ground. Karena relay on maka arus mengalir ke battray dan dari baterai masuk ke buzer sehingga buzer aktif.⇉Apabila sensor vibrasi dan senso flame aktif maka output dari sensor vibrasi dan sensor flame akan diteruskan ke pin A dan pin B 74247 sehingga seven segment akan menampilkan angka 3 yang menandakan kedua sensor aktif sehingga output dari kedua sensor sebesar 5V diteruskan ke gerbang AND U2 dan U3 lalu diteruskan ke transistor karena transistor on maka ada ada arus dari batterai masuk ke relay sehingga relay aktif dan switch pada relay berpindah ke kiri dari relay arus mengalir kek kaki kolektor Q1 dan Q2 menuju ke emitor dan ke ground . Karena relay on maka arus mengalir ke motor dan buzer sehingga led dan buzer aktif.⇉Apabila sensor pir mendeteksi adanya pergerakan orang yang akan keluar dari ruangan, maka sensor pir akan berlogika 1, sehingga ada arus yang mengalir dari power supply menuju vcc, kemudian dikeluarkan menuju kaki out, sehingga adanya tegangan yang masuk menuju resistor, kemudian diumpankan pada sebuah opamp, dimana disana terjadi penguatan sebanyak 2 kali. Tegangan tersebut ditersukan ke resistor, sehingga tegangannya menjadi 0.87. Tegangan ini mampu mengaktifkan kaki base transistor, sehingga ada arus mengalir dari power supply ke relay, yang menyebabkan relay aktif sehingga rangkaian lop pada relay menjadi tertutup yang menyebebkan adanya tegangan dari baterai yang mempu mengaktifkan motor sehingga motor bergeraknyang menandakan bahwa pintu terbuka. Selian itu arus pada relay juga diteruskan pada kaki colector terus ke emiter terus ke ground.
- Download Simulasi Rangkaian klik disini
- Download Library Sensor Vibration klik disini
- Download Library Sensor PIR klik disini
- Download Library Flame Sensor klik disini
- Download Datasheet Sensor Vibration klik disini
- Download Datasheet Sensor PIR klik disini
- Download Datasheet Flame Sensor klik disini
- Download Datasheet Resistor klik disini
- Download Datasheet Transistor NPN klik disini
- Download Datasheet OPAMP klik disini
- Download Datasheet LED klik disini
- Download Datasheet Motor DC klik disini
- Download Datasheet Buzzer klik disini
- Download Datasheet 7 Segment klik disini
- Download Datasheet IC decoder 74247 klik disini
- Download Datasheet Relay klik disini
- Download Datasheet Baterai klik disini
- Download Datasheet Gerbang AND klik disini
- Download Datasheet Switch klik disini












.png)
.png)

.png)
Komentar
Posting Komentar